Wednesday, May 02, 2007

”May Day”, Revitalisasi Si Kerah Biru

Oleh STEVANUS SUBAGIJO

DEMO buruh menentang revisi UU Ketenagakerjaan No. 13/2003 beberapa tahun lalu, hanyalah 'solvatara' nasib buruh yang tak bisa ditahan lagi. Jauh sebelum demo buruh, dunia usaha juga melakukan ”silent demonstration” lewat sistem hubungan kerja yang represif. Anarki buruh sebaiknya tidak serta-merta dilihat sebagai kriminalisasi.

Marsinah adalah contoh kepundan perburuhan yang meledak. Peraturan perburuhan dan kondisi riil buruh tanpa tanggung jawab pemerintah dan pengusaha dalam derajat tertentu akan menjadi tumbal. Ia membunuh perlahan-lahan di balik legalisme undang-undang. Soft crime mesti dihentikan dengan membuat tatanan baru dalam hubungan buruh-pengusaha yang tidak memelihara dikotomi buruh versus pengusaha dengan kepentingannya masing-masing yang sulit bertemu. Yang diperlukan ialah mengubah dari "lawan sekerja", pun "serikat pekerja" menjadi kawan sekerja.

May Day yang berakar pada perayaan mitos rakyat Eropa menandai datangnya first spring planting. Sebagai perayaan modern May Day berkembang di Amerika Serikat dan Kanada di mana tanggal 1 Mei 1886 menjadi tonggak perjuangan pekerja yang memperjuangkan 'delapan jam kerja sehari' (eight hour day). Kini dunia memperingati May Day secara luas sebagai hari buruh. Jika May Day di Indonesia diperingati dengan mogok dan demo besar-besaran menentang revisi UU Ketenagakerjaan beberapa waktu lalu yang menjadi pertanyaan apakah fenomena ini akan disikapi dengan positif atau akan menambah panjang perseteruan buruh-pengusaha (white collar versus blue collar)

Dunia usaha baru

May Day jangan dipolitisasi hanya masalah revisi UU Ketenagakerjaan belaka. Peraturan perburuhan hanyalah teknis kecil dari perlunya reformasi pandangan buruh terhadap pengusaha dan sebaliknya. Dan pandangan keduanya terhadap dunia usaha baru. Tanpa kerangka dasar ini perubahan UU Ketenagakerjaan akan selalu menjadi ajang tarik-menarik kepentingan. Dan resistensi buruh ataupun pengusaha akan selalu mencari celah mengakali peraturan tersebut demi maksimalisasi kepentingannya.

Mengapa gerakan buruh di negara-negara maju lebih stabil salah satunya adanya kerangka pandangan yang sama tentang dunia usaha. Baik buruh atau pengusaha melihat perusahaan sebagai unit kerja bersama yang memberikan hak dan kewajibannya secara adil. Tidak peduli bahwa saham perusahaan itu milik pengusaha seratus persen dan tidak peduli pula bahwa mayoritas buruh berada dalam struktur piramida perusahaan yang paling bawah, nasib buruh tidak harus identik dengan posisinya yang paling bawah itu. Yakni miskin, tertindas, tak punya hak bicara-berserikat dan hanya berhak atas remah-remah kemakmuran pengusaha.

Bahkan di negeri kapitalis seperti Inggris Raya, Tony Blair sebagai perdana menteri berasal dari Partai Buruh. Ini menunjukkan bahwa gerakan buruh bukan monopoli milik buruh tetapi juga menjadi advokasi masyarakat luas bahkan termasuk para pengusaha sendiri. Di Polandia kita mengenal Lech Walesa yang mengenalkan Solidarsnoch, sebagai penyadaran akan gerakan kaum buruh. Gerakan buruh memang bukan untuk buruh sendiri tetapi juga menjadi bagian dari peningkatan kesejahteraan masyarakat secara umum.

Dengan demikian setiap meletus demonstrasi buruh di Indonesia kita latah selalu saja memphadapkan antara kepentingan pengusaha dan buruh di satu sisi dan pemerintah di tengah-tengahnya. Padahal gerakan buruh sejatinya juga menjadi dambaan pengusaha. Buruh yang makmur dan mendapatkan hak-haknya, pastilah membanggakan perusahaan dan pengusaha. Sebaliknya kemajuan pengusaha juga menjadi dambaan buruh sebagai laskar kerja yang menggerakkan cita-cita itu tercapai. Gerakan buruh dengan begitu harus dilihat sebagai penetrasi buruh atas rekayasa sosial yang diidamkan masyarakat atau negara (welfare state).

Kembali pada perlunya sudut pandang baru buruh-pengusaha, langkah utama yang perlu disosialisasikan ialah bahwa perusahaan sebagai unit kerja bersama adalah sebuah konstruksi sosial. Konstruksi sosial itu sendiri eksis karena kontrak-kontrak sosial di dalamnya yang sudah teruji dalam ruang dan waktu. Di mana nilai dan normal sosial sudah menjadi urat nadi relasi di antara mereka. Perusahaan tentu mempunyai kontrak sosialnya sendiri yang mungkin berbeda-beda. UU Ketenagakerjaan hanyalah sebagian kecil dari kontrak sosial tertulis yang difasilitasi pemerintah yang ingin memberikan solusi tengah antara pengusaha dan buruh.

Konflik buruh-pengusaha-pemerintah terjadi karena trikotomi ini membuat bentengnya sendiri-sendiri. Ketiganya harus duduk bersama tanpa memandang siapa mewakili siapa. Tujuan saling meniadakan ini untuk kemajuan perusahan sebagai unit kerja yang kini terpengaruh akibat mogok dan demo. Fungsi tripartit tampaknya justru memberikan masing-masing kubu untuk memperkokoh kepentingan dari tekanan di antaranya. Dari yang sifatnya politis (tarik menarik revisi), ekonomis (pemberian suap atau ancaman PHK) sampai kriminal (pembunuhan Marsinah dan pengajuan ke meja hijau).

Kontrak sosial antara buruh dan pengusaha dalam perusahaan bisa berlangsung jika mempunyai makna moral dari hubungan itu. Makna moral di sini diartikan sejauh mana keduanya berjanji dan memberikan jaminan atas kemampuannya untuk perusahaan. Inilah iktikad baik yang mendasari-meminjam istilah Larry Hirschorn sebagai kontrak psikologis-antara buruh dan majikan dalam organisasi. Kasus anarki buruh-pengusaha tersirat merupakan pemaksaan baik buruh atau majikan untuk saling mengubah makna moral ini. Condong ke pengusaha atau condong ke buruh yang semuanya hanya menghasilkan konflik baru.

Struktur bayangan

Matematikanisasi UU Ketenagakerjaan seperti penentuan jumlah pesangon misalnya justru memperkuat dikotomi buruh-pengusaha yang kontraproduktif. Harga seorang buruh hanya ditentukan oleh peraturan tertulis (sekian rupiah) dan bukan penghargaan manusiawi yang lebih bermoral. Belum lagi jika peraturan itu didasarkan atas upah minimum buruh. Ironis sekali bahwa upah yang baru dalam taraf minimum saja, sudah membuat dunia usaha berat lalu kapan tercapai upah maksimum? Pengusaha dan perusahaan terjebak hanya melihat buruhnya dengan kacamata UU tertulis. Di mana buruh mendapatkan kekangan atas hak-haknya di balik kedok ideal usaha atau investor friendly.

Pandangan untuk memajukan perusahaan dan menambah profit ini secara tidak langsung menjadikan buruh sebagai fondasi yang paling berat bagi kemajuan industri. Semua ini tidak terlepas dari makin kuatnya pandangan robotisasi manusia buruh sebagai bagian dari penetrasi teknologi industri. Buruh menjadi bagian dari gerak mesin (ban berjalan) yang seirama, tanpa perasaan, kaku dan otomatis. Pelanggaran atasnya menimpakan akibat proses produksi yang tidak memenuhi standar yang bisa merugikan perusahaan. Dan buruh sangat diindoktrinasi akan hal ini.

Untuk itulah di tengah realitas yang telanjur mengeras antara buruh dan perusahaan perlulah dibentuk struktur bayangan dalam hubungan buruh-pengusaha. Struktur bayangan merupakan struktur perusahaan yang tidak resmi yang bisa mengakses kebuntuan legalitas hubungan buruh-pengusaha. Misalnya kebuntuan UU Ketenagakerjaan yang akan dipakai oleh buruh dan pengusaha di PT A bisa diredam oleh pimpinan PT A dengan membuat "bonus peraturan" perusahan yang konstekstual dan menguntungkan buruhnya sendiri dengan misalnya memberikan tambahan uang jasa misalnya.

Atau memberikan insentif berupa biaya kemahalan atas anggaran hidup yang membengkak. Buruh sebaliknya memberikan komitmen lebih loyal, lebih produktif dan tidak serta merta kerjanya dihitung secara matematika berdasar peraturan. Hidup perusahan tentu tidak selamanya bersifat matematis. Justru di sinilah buruh bisa memberikan sumbangannya bagi perusahaan. Dengan adanya struktur ini paling tidak agresivitas buruh-pengusaha bisa diredam sementara. Struktur bayangan merupakan embrio bagi implementasi pandangan baru buruh-pengusaha.

Dengan makin melembaganya struktur bayangan, perusahaan mempunyai imunisasi atas berbagai isu perburuhan yang merebak seperti ricuh revisi UU Ketenagakerjaan hingga May Day. Struktur bayangan sedikit demi sedikit jika memuaskan kedua belah pihak, bisa diadopsi menjadi struktur perusahaan resmi dalam hubungan keduanya. Sampai pada tahap ini sebenarnya kita telah menanam bibit hubungan industrial yang lebih egaliter, di mana seorang pengusaha adalah buruh yang sukses. Buruh dan pengusaha mempunyai "roh" yang sama, sehingga tidak lagi bisa berbenturan kepentingan-kepentingannya. Ia menjadi batu loncatan bagi kristalisasi struktur baru yang memuaskan semua pihak.***

Penulis, peneliti pada Center for National Urgency Studies Jakarta, tinggal di Cileungsi Bogor.

Refleksi May Day 1 Mei

Oleh M. Hadi Shubhan

Jangan Kurangi Hak Normatif Buruh
Nasib buruh kian merana. Proposisi itu bukan provokasi, tapi fakta yang sangat mudah diverifikasi. Contohnya, soal upah buruh, pada 1997, upah minimum buruh (di Surabaya) Rp 250 ribu, sementara gaji PNS terendah Rp 150 ribu. Itu berarti upah buruh hampir dua kali lipat gaji PNS.

Pada 2007, yang terjadi sebaliknya, upah minimum buruh Rp 763 ribu, sedangkan gaji PNS golongan terendah sudah mencapai Rp 1,2 juta. Jadi, sekarang gaji PNS terendah hampir dua kali upah minimum buruh.

Belum lagi makna upah dari segi upah riil yang diterima buruh. Pada 1997, upah minimum buruh mampu digunakan membeli 350 kg beras (dengan harga beras Rp 700 per kg pada tahun itu), sedangkan upah minimum buruh 2007 hanya mampu membeli 150 kg beras (dengan harga beras Rp 5.000 per kg pada tahun ini). Hal itu bermakna bahwa upah riil buruh terjun bebas berkurang lebih dari 50 persen.

Penderitaan buruh tersebut belum seberapa dibandingkan penderitaan rekan-rekan mereka yang terkena PHK dan yang masih menganggur. Buruh yang terkena PHK mengalami dua penderitaan, penderitaan karena banyak pesangon buruh yang tidak diberikan oleh pengusaha sebagaimana mestinya serta penderitaan karena sangat sulit memperoleh pekerjaan baru.

Di Bandung, mantan pekerja PT Dirgantara Indonesia yang di-PHK beberapa tahun lalu hanya mampu bekerja sebagai penjual es krim asongan, bahkan menjadi pemulung sampah. Padahal, dia lulusan sarjana nuklir dari universitas negeri terkemuka di republik ini (Kompas, 28/4/07). Sungguh tragis nasib buruh/pekerja di negeri ini.

Nasib buruh yang kian tidak menentu tersebut masih mendapatkan tekanan, baik dari pengusaha maupun penguasa republik ini. Belum lekang dalam ingatan kita, tahun lalu, pengusaha yang bermain mata dengan penguasa mencoba merevisi UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan.

Mengurangi Hak Normatif

Epistemologi rencana revisi UU Ketenagakerjaan tersebut tidak lain adalah mengurangi hak-hak normatif buruh yang dianggap membebani perusahaan. Misalnya, hak pesangon, hak asuransi sosial, dan hak upah.

Pengusaha dan pemerintah berdalih bahwa kondisi investasi di Indonesia saat ini suram karena iklim hubungan industrial yang tidak kondusif. Padahal, berdasarkan studi World Bank, buruknya iklim investasi di Indonesia disebabkan banyaknya faktor. Faktor perburuhan hanya menempati peringkat ketujuh di antara sekian faktor yang ada.

Faktor-faktor lain penghambat investasi yang justru lebih determinan daripada soal perburuhan, antara lain, buruknya infrastruktur, sulit dan rumitnya perpajakan, birokrasi perizinan yang korup, serta ketidakpastian hukum.

Jadi, masalah perburuhan bukan faktor utama dan determinan dalam kaitan dengan investasi di negeri ini. Tapi, mengapa pemerintah justru membidik persoalan hubungan industrial tersebut untuk memperbaiki daya saing Indonesia? Bukankah masih ada hal yang utama dan determinan yang perlu ditata pemerintah. Lagi-lagi, buruh menjadi tumbal.

Untungnya, rencana revisi UU Ketenagakerjaan berhasil dibendung kalangan buruh dengan mengadakan demonstrasi besar-besaran secara nasional. Namun, upaya pengusaha yang berselingkuh dengan penguasa untuk membuat regulasi baru yang merugikan buruh terus dilakukan.

Setelah gagal merevisi UU Ketenagakerjaan, kini pemerintah sedang menyiapkan beberapa peraturan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan. Misalnya, RPP tentang Ketenagakerjaan dan RPP tentang Pesangon.

Upaya pemerintah menata ulang hukum perburuhan dengan cara meregulasi melalui berbagai peraturan pemerintah tersebut merupakan upaya melakukan penyelundupan hukum di bidang perburuhan/ketenagakerjaan.

Upaya pemerintah dengan mengambil jalan belakang dalam menata ulang sistem hukum perburuhan tersebut merupakan strategi licin pemerintah setelah tidak punya nyali untuk merombak UU Ketenagakerjaan karena didemo besar-besaran oleh kalangan buruh pada pertengahan tahun lalu.

Dengan menata ulang peraturan pelaksanaan UU Ketenagakerjaan tersebut, pemerintah tidak perlu lagi melibatkan DPR dan stakeholders yang lain serta bisa dilakukan secara tidak transparan.

Tidak Logis

Argumentasi pemerintah yang menyatakan bahwa law reform hukum perburuhan bisa dilakukan dengan menerbitkan peraturan pelaksanaan UU Ketenagakerjaan karena UU tersebut belum secara detail mengatur hubungan industrial adalah argumentasi tidak logis.

Mengapa? Sebab, saya pernah meneliti peraturan pelaksanaan UU Ketenagakerjaan. Ternyata, peraturan pelaksanaan UU Ketenagakerjaan tersebut sudah sedemikian memadahi. Yakni, setidak-tidaknya ada 14 peraturan pemerintah, 5 keputusan presiden, dan 27 keputusan/peraturan menteri.

Belum lagi peraturan lain yang terkait dengan UU Ketenagakerjaan yang berjumlah 62 peraturan. Barangkali, UU Ketenagakerjaan tersebut merupakan UU yang paling banyak dan lengkap peraturan pelaksanaannya.

Sebenarnya, UU Ketenagakerjaan telah maksimal mengompromikan kepentingan pemerintah, pengusaha, serta buruh. Sejarah hukum perburuhan Indonesia telah mencatat bahwa UU Ketenagakerjaan yang saat ini berlaku (yakni UU No 13/2003) adalah kompromi terbaik dari tiga kepentingan tersebut dibandingkan sebelumnya.

Penataan ulang kebijakan perburuhan akan sangat berpotensi menimbulkan penyelundupan-penyelundupan hukum untuk mengakali UU Ketenagakerjaan.

Jika upaya pemerintah menderegulasi bidang perburuhan tersebut berhasil, nasib buruh akan menjadi lebih buruk pada tahun-tahun mendatang. Republik yang katanya kaya raya dengan berbagai sumber kekayaan alam ini menjadi kuburan bagi warganya karena kelaparan tidak mampu makan akibat menganggur serta akibat bekerja, tapi dibayar tidak manusiawi.

Buruh yang mampu menghidupi keluarganya karena perusahaan telah mampu memberikan upah yang layak juga ikut terkubur akibat pabrik tempat kerjanya terendam banjir lumpur. Sungguh sebuah balada dari negeri yang salah urus.


Dr M. Hadi Shubhan SH MH CN, anggota tim pengajar hukum perburuhan Fakultas Hukum Unair, (hadi_unair@yahoo.com)

Tuesday, December 26, 2006

NABI MUHAMMAD SAW,...

Tulisan ini mencoba memberikan persepsi lain atas Muhammad (SAW) dari orang2 yang bukan pengikutnya. Tujuannya sih, biar yang belum baca jadi baca, yang sudah baca baca lagi, (pengikutnya) yang belum cinta jadi cinta, yang sudah cinta jadi tambah cinta melebihi cinta pada dirinya, yang sudah cintanya kayak gitu yaa biar bisa nularin deh sama yang lain.

ENCYCLOPEDIA BRITANNICA
"Sejumlah besar sumber awal menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang jujur dan berbudi baik yang dihormati dan ditaati orang-orang yang sepertinya (jujur dan berbudi baik) (Vol. 12)"

MAHATMA GANDHI (Komentar mengenai karakter Muhammad di YOUNG INDIA):
"Pernah saya bertanya-tanya siapakah tokoh yang paling mempengaruhi manusia... Saya lebih dari yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya. Semua ini (dan bukan pedang ) menyingkirkan segala halangan. Ketika saya menutup halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung."

Sir George Bernard Shaw (The Genuine Islam,' Vol. 1, No. 8, 1936.)
"Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris - bahkan Eropa - beberapa ratus tahun dari sekarang, Islam-lah agama tersebut."
" Saya senantiasa menghormati agama Muhammad karena potensi yang dimilikinya. Ini adalah satu-satunya agama yang bagi saya memiliki kemampuan menyatukan dan merubah peradaban. Saya sudah mempelajari Muhammad - sesosok pribadi agung yang jauh dari kesan seorang anti-kristus, dia harus dipanggil 'sang penyelamat kemanusiaan'."
"Saya yakin, apabila orang semacam Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, dia akan berhasil mengatasi segala permasalahan sedemikian hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia: Ramalanku, keyakinan yang dibawanya akan diterima Eropa di masa datang dan memang ia telah mulai diterima Eropa saat ini"
"Dia adalah manusia teragung yang pernah menginjakkan kakinya di bumi ini. Dia membawa sebuah agama, mendirikan sebuah bangsa, meletakkan dasar-dasar moral, memulai sekian banyak gerakan pembaruan sosial dan politik, mendirikan sebuah masyarakat yang kuat dan dinamis untuk melaksanakan dan mewakili seluruh ajarannya, dan ia juga telah merevolusi pikiran serta perilaku manusia untuk seluruh masa yang akan datang.
Dia adalah Muhammad (SAW). Dia lahir di Arab tahun 570 masehi, memulai misi mengajarkan agama kebenaran, Islam (penyerahan diri pada Tuhan) pada usia 40 dan meninggalkan dunia ini pada usia 63.
Sepanjang masa kenabiannya yang pendek (23 tahun) dia telah merubah Jazirah Arab dari paganisme dan pemuja makhluk menjadi para pemuja Tuhan yang Esa, dari peperangan dan perpecahan antar suku menjadi bangsa yang bersatu, dari kaum pemabuk dan pengacau menjadi kaum pemikir dan penyabar, dari kaum tak berhukum dan anarkis menjadi kaum yang teratur, dari kebobrokan ke keagungan moral. Sejarah manusia tidak pernah mengenal tranformasi sebuah masyarakat atau tempat sedahsyat ini - dan bayangkan ini terjadi dalam kurun waktu hanya sedikit di atas DUA DEKADE."

MICHAEL H. HART (THE 100: A RANKING OF THE MOST INFLUENTIAL PERSONS IN HISTORY, New York, 1978)
Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tapi dialah satu-satunya orang yang sukses baik dalam tataran sekular maupun agama. (hal. 33). Lamar tine, seorang sejarawan terkemuka menyatakan bahwa:
"Jika keagungan sebuah tujuan, kecilnya fasilitas yang diberikan untuk mencapai tujuan tersebut, serta menakjubkannya hasil yang dicapai menjadi tolok ukur kejeniusan seorang manusia; siapakah yang berani membandingkan tokoh hebat manapun dalam sejarah modern dengan Muhammad? Tokoh-tokoh itu membangun pasukan, hukum dan kerajaan saja. Mereka hanyalah menciptakan kekuatan-kekuatan material yang hancur bahkan di depan mata mereka sendiri.
Muhammad bergerak tidak hanya dengan tentara, hukum, kerajaan, rakyat dan dinasti, tapi jutaan manusia di dua per tiga wilayah dunia saat itu; lebih dari itu, ia telah merubah altar-altar pemujaan, sesembahan, agama, pikiran, kepercayaan serta jiwa... Kesabarannya dalam kemenangan dan ambisinya yang dipersembahkan untuk satu tujuan tanpa sama sekali berhasrat membangun kekuasaan, sembahyang-sembahyangnya, dialognya dengan Tuhan, kematiannnya dan kemenangan-kemenangan (umatnya) setelah kematiannya; semuanya membawa keyakinan umatnya hingga ia memiliki kekuatan untuk mengembalikan sebuah dogma. Dogma yang mengajarkan ketunggalan dan kegaiban (immateriality) Tuhan yang mengajarkan siapa sesungguhnya Tuhan. Dia singkirkan tuhan palsu dengan kekuatan dan mengenalkan tuhan yang sesungguhnya dengan kebijakan.
Seorang filsuf yang juga seorang orator, apostle (hawariyyun, 12 orang pengikut Yesus-pen.), prajurit, ahli hukum, penakluk ide, pegembali dogma-dogma rasional dari sebuah ajaran tanpa pengidolaan, pendiri 20 kerajaan di bumi dan satu kerajaan spiritual, ialah Muhammad. Dari semua standar bagaimana kehebatan seorang manusia diukur, mungkin kita patut bertanya: adakah orang yang lebih agung dari dia?"
(Lamar tine, HISTOIRE DE LA TURQUIE, Paris, 1854, Vol. II, pp 276-277)
"Dunia telah menyaksikan banyak pribadi-pribadi agung. Namun, dari orang orang tersebut adalah orang yang sukses pada satu atau dua bidang saja misalnya agama atau militer. Hidup dan ajaran orang-orang ini seringkali terselimuti kabut waktu dan zaman. Begitu banyak spekulasi tentang waktu dan tempat lahir mereka, cara dan gaya hidup mereka, sifat dan detail ajaran mereka, serta tingkat dan ukuran kesuksesan mereka sehingga sulit bagi manusia untuk merekonstruksi ajaran dan hidup tokoh-tokoh ini.
Tidak demikian dengan orang ini. Muhammad (SAW) telah begitu tinggi menggapai dalam berbagai bidang pikir dan perilaku manusia dalam sebuah episode cemerlang sejarah manusia. Setiap detil dari kehidupan pribadi dan ucapan-ucapannya telah secara akurat didokumentasikan dan dijaga dengan teliti sampai saat ini. Keaslian ajarannya begitu terjaga, tidak saja oleh karena penelusuran yang dilakukan para pengikut setianya tapi juga oleh para penentangnya.
Muhammad adalah seorang agamawan, reformis sosial, teladan moral, administrator massa, sahabat setia, teman yang menyenangkan, suami yang penuh kasih dan seorang ayah yang penyayang - semua menjadi satu. Tiada lagi manusia dalam sejarah melebihi atau bahkan menyamainya dalam setiap aspek kehidupan tersebut - hanya dengan kepribadian seperti dia-lah keagungan seperti ini dapat diraih."

K. S. RAMAKRISHNA RAO, Professor Philosophy dalam bookletnya, "Muhammad, The Prophet of Islam"
Kepribadian Muhammad, hhmm sangat sulit untuk menggambarkannya dengan tepat. Saya pun hanya bisa menangkap sekilas saja: betapa ia adalah lukisan yang indah. Anda bisa lihat Muhammad sang Nabi, Muhammad sang pejuang, Muhammad sang pengusaha, Muhammad sang negarawan, Muhammad sang orator ulung, Muhammad sang pembaharu, Muhammad sang pelindung anak yatim-piatu, Muhammad sang pelindung hamba sahaya, Muhammad sang pembela hak wanita, Muhammad sang hakim, Muhamad sang pemuka agama. Dalam setiap perannya tadi, ia adalah seorang pahlawan.
Saat ini, 14 abad kemudian, kehidupan dan ajaran Muhammad tetap selamat, tiada yang hilang atau berubah sedikit pun. Ajaran yang menawarkan secercah harapan abadi tentang obat atas segala penyakit kemanusiaan yang ada dan telah ada sejak masa hidupnya. Ini bukanlah klaim seorang pengikutnya tapi juga sebuah simpulan tak terelakkan dari sebuah analisis sejarah yang kritis dan tidak bias.

PROF. (SNOUCK) HURGRONJE:
Liga bangsa-bangsa yang didirikan Nabi umat Islam telah meletakkan dasar-dasar persatuan internasional dan persaudaraan manusia di atas pondasi yang universal yang menerangi bagi bangsa lain.
Buktinya, sampai saat ini tiada satu bangsa pun di dunia yang mampu menyamai Islam dalam capaiannya mewujudkan ide persatuan bangsa-bangsa.
Dunia telah banyak mengenal konsep ketuhanan, telah banyak individu yang hidup dan misinya lenyap menjadi legenda. Sejarah menunjukkan tiada satu pun legenda ini yang menyamai bahkan sebagian dari apa yang Muhammad capai. Seluruh jiwa raganya ia curahkan untuk satu tujuan: menyatukan manusia dalam pengabdian kapada Tuhan dalam aturan-aturan ketinggian moral. Muhammad atau pengikutnya tidak pernah dalam sejarah menyatakan bahwa ia adalah putra Tuhan atau reinkarnasi Tuhan atau seorang jelmaan Tuhan - dia selalu sejak dahulu sampai saat ini menganggap dirinya dan dianggap oleh pengikutnya hanyalah sebagai seorang pesuruh yang dipilih Tuhan.

THOMAS CARLYLE in his HEROES AND HEROWORSHIP
"(Betapa menakjubkan) seorang manusia sendirian dapat mengubah suku-suku yang saling berperang dan kaum nomaden (Baduy) menjadi sebuah bangsa yang paling maju dan paling berperadaban hanya dalam waktu kurang dari dua decade."
"Kebohongan yang dipropagandakan kaum Barat yang diselimutkan kepada orang ini (Muhammad) hanyalah mempermalukan diri kita sendiri."
"Sesosok jiwa besar yang tenang, seorang yang mau tidak mau harus dijunjung tinggi. Dia diciptakan untuk menerangi dunia, begitulah perintah Sang Pencipta Dunia."

EDWARD GIBBON and SIMON OCKLEY speaking on the profession of ISLAM write:
" 'Saya percaya bahwa Tuhan adalah tunggal dan Muhammad adalah pesuruh-Nya' adalah pengakuan kebenaran Islam yang simpel dan seragam. Tuhan tidak pernah dihinakan dengan pujaan-pujaan kemakhlukan; penghormatan terhadap Sang Nabi tidak pernah berubah menjadi pengkultusan berlebihan; dan prinsip-prinsip hidupnya telah memberinya penghormatan dari pengikutnya dalam batas-batas akal dan agama (HISTORY OF THE SARACEN EMPIRES, London, 1870, p. 54).
Muhammad tidak lebih dari seorang manusia biasa. Tapi ia adalah manusia dengan tugas mulia untuk menyatukan manusia dalam pengabdian terhadap satu dan hanya satu Tuhan serta untuk mengajarkan hidup yang jujur dan lurus sesuai perintah Tuhan. Dia selalu menggambarkan dirinya sebagai 'hamba dan pesuruh Tuhan' dan demikianlah juga setiap tindakannya.

SAROJINI NAIDU, penyair terkenal India (S. Naidu, IDEALS OF ISLAM, vide Speeches & Writings, Madras, 1918, p. 169):
Inilah agama pertama yang mengajarkan dan mempraktekkan demokrasi; di setiap masjid, ketika adzan dikumandangkan dan jemaah telah berkumpul, demokrasi dalam Islam terwujud lima kali sehari ketika seorang hamba dan seorang raja berlutut berdampingan dan mengakui: 'Allah Maha Besar'... Saya terpukau lagi dan lagi oleh kebersamaan Islam yang secara naluriah membuat manusia menjadi bersaudara.

DIWAN CHAND SHARMA:
"Muhammad adalah sosok penuh kebaikan, pengaruhnya dirasakkan dan tak pernah dilupakan orang-orang terdekatnya.
(D.C. Sharma, THE PROPHETS OF THE EAST, Calcutta, 1935, pp. 12)
James A. Michener, "Islam: The Misunderstood Religion," in READER'S DIGEST (American edition), May 1955, pp. 68-70.
Muhammad, seorang inspirator yang mendirikan Islam, dilahirkan pada tahun 570 masehi dalam masyarakat Arab penyembah berhala. Yatim semenjak kecil dia secara khusus memberikan perhatian kepada fakir miskin, yatim piatu dan janda, serta hamba sahaya dan kaum lemah. Di usia 20 tahun, dia sudah menjadi seorang pengusaha yang sukses, dan menjadi pengelola bisnis seorang janda kaya. Ketika mencapai usia 25, sang majikan melamarnya. Meski usia perempuan tersebut 15 tahun lebih tua Muhammad menikahinya dan tetap setia kepadanya sepanjang hayat sang istri.

"Seperti halnya para nabi lain, Muhammad memulai tugas kenabiannya dengan sembunyi2 dan ragu2 karena menyadari kelemahannya. Tapi "Baca" adalah perintah yang diperolehnya, -dan meskipun sampai saat ini diyakini bahwa Muhammad tidak bisa membaca dan menulis - dan keluarlah dari mulutnya satu kalimat yang akan segera mengubah dunia: "Tiada tuhan selain Tuhan."

"Dalam setiap hal, Muhammad adalah seorang yang mengedepankan akal. Ketika putranya, Ibrahim, meninggal disertai gerhana dan menimbulkan anggapan ummatnya bahwa hal tersebut adalah wujud rasa belasungkawa Tuhan kepadanya, Muhammad berkata: "Gerhana adalah sebuah kejadian alam biasa, adalah suatu kebodohan mengkaitkannya dengan kematian atau kelahiran seorang manusia."

"Sesaat setelah ia meninggal, sebagian pengikutnya hendak memujanya sebagaimana Tuhan dipuja, akan tetapi penerus kepemimpinannya (Abu Bakar-pen.) menepis keingingan ummatnya itu dengan salah satu pidato relijius terindah sepanjang masa: 'Jika ada diatara kalian yang menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa ia telah meninggal. Tapi jika Tuhan-lah yang hendak kalian sembah, ketahuilah bahwa Ia hidup selamanya". (Ayat terkait: Q.S. Al Imran, 144 - pen.)

W. Montgomery Watt, MOHAMMAD AT MECCA, Oxford, 1953, p. 52.
"Kesiapannya menempuh tantangan atas keyakinannya, ketinggian moral para pengikutnya, serta pencapaiannya yang luar biasa - semuanya menunjukkan integritasnya. Mengira Muhammad sebagai seorang penipu hanyalah memberikan masalah dan bukan jawaban. Lebih dari itu, tiada figur hebat yang digambarkan begitu buruk di Barat selain Muhammad"

Annie Besant, THE LIFE AND TEACHINGS OF MUHAMMAD, Madras, 1932, p. 4.
"Sangat mustahil bagi seseorang yang memperlajari karakter Nabi Bangsa Arab, yang mengetahui bagaimana ajarannya dan bagaimana hidupnya untuk merasakan selain hormat terhadap beliau, salah satu utusan-Nya. Dan meskipun dalam semua yang saya gambarkan banyak hal-hal yang terasa biasa, namun setiap kali saya membaca ulang kisah-kisahnya, setiap kali pula saya mersakan kekaguman dan penghormatan kepada sang Guru Bangsa Arab tersebut."

Bosworth Smith, MOHAMMAD AND MOHAMMADANISM, London, 1874, p. 92.
"Dia adalah perpaduan Caesar dan Paus; tapi dia adalah sang Paus tanpa pretensinya dan seorang caesar tanpa Legionnaire-nya: tanpa tentara, tanpa pengawal, tanpa istana, tanpa pengahasilan tetap; jika ada seorang manusia yang pantas untuk berkata bahwa dia-lah wakil Tuhan penguasa dunia, Muhammad lah orang itu, karena dia memiliki kekuatan meski ia tak memiliki segala instrument atau penyokongnya."

John William Draper, M.D., L.L.D., A History of the Intellectual Development of Europe, London 1875, Vol.1, pp.329-330
"Empat tahun setelah kematian Justinian, pada 569 AD, telah lahir di Mekkah Arabia seorang manusia yang sangat besar pengaruhnya terhadap ummat manusia . Muhammad"

John Austin, "Muhammad the Prophet of Allah," in T.P. 's and Cassel's Weekly for 24th September 1927.
Dalam kurun waktu hanya sedikit lebih dari satu tahun, ia telah menjadi pemimpin di Madinah. Kedua tangannya memegang sebuah tuas yang siap mengguncang dunia.

Professor Jules Masserman
"Pasteur dan Salk adalah pemimpin dalam satu hal (intelektualitas-pen). Gandhi dan Konfusius pada hal lain serta Alexander, Caesar dan Hitler mungkin pemimpin pada kategori kedua dan ketiga (reliji dan militer pen.). Jesus dan Buddha mungkin hanya pada kategori kedua. Mungkin pemimpin terbesar sepanjang masa adalah Muhammad, yang sukses pada ketiga kategori tersebut. Dalam skala yang lebih kecil Musa melakukan hal yang sama."